0
Dikirim pada 20 Maret 2015 di musik kreatif
NGALIYAN- Banyaknya aliran musik yang mengusung genre baru, ternyata tidak serta merta membuat kualitas musik di Indonesia semakin meningkat. Hal ini dikarenakan banyak yang menggunakan musik hanya bagian dari bisnis saja, sehingga apa yang mau disampaikan kepada publik seringkali kabur dan melanggar norma-norma yang ada.

Hal inilah yang menjadi keprihatinan Dwi Royanto, Ketua Komunitas Suluk Rampak Pertiwi (SRP), saat ditemui oleh Harian Semarang, kemarin. Menurut Dwi, musik adalah seni pembebasan dari sebuah perenungan. Sehingga walaupun menggunakan aransemen sederhana, isi yang akan disampaikan haruslah mempunyai makna yang jelas.

Cikal bakal SRP berasal dari sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Teater Beta IAIN Walisongo yang dikomandoi oleh Abdul Mughis pada tahun 2003. Mereka melihat, setelah reformasi permasalahan bangsa ini belum juga usai, sehingga mahasiswa harus terus melancarkan kritik sosial yang memihak kepada rakyat

Untuk tema, SRK cenderung mengangkat tema-tema yang mengandung kepedulian, seperti kritik sosial, kemiskinan, kepedulian lingkungan, dan persahabatan. Sementara corak musik SRP dalam setiap pementasannya seringkali menggunakan instrumen tradisional seperti gamelan dan rebana yang digabungkan dengan barang bekas, sampah, dan yang paling unik adalah suara tepuk tangan dan sepatu penonton.

“Kami ingin penonton juga ikut larut dalam aransemen yang kami bawakan, sehingga kesadaran emosional mereka akan naik,” kata Dwi

Sementara itu Lurah Teater Beta Semarang, Muhammad Maghfur’an mengatakan, walaupun SRP berasal dari IAIN yang notabene Islam, tetapi dalam pementasannya selalu mengampanyekan bahwa Islam adalah agama universal yang berbicara tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya, sehingga SRP juga mengampanyekan kerukunan hidup antarumat beragama.

“Lewat musik, kami ingin menghapus kesan bahwa Islam agama yang buruk dengan segala macam kejadian akhir-akhir ini,”cetus Fur’an. 


Hingga saat ini, SRP sudah mempunyai anggota sebanyak 15 orang  dan menghasilkan banyak lagu-lagu kreasi, baik ciptaan sendiri atau mengaransemen ulang lagu-lagu milik seniman lain.

Dari keunikan perpaduan aransemen musik dan tema yang akan disampaikan, seringkali mereka diundang pentas di balaikota maupun Pemprov Jateng.

Sedangkan base camp SRP berada di kampus IAIN Jl.Dr Hamka KM 2, Ngaliyan.



Dikirim pada 20 Maret 2015 di musik kreatif
comments powered by Disqus


connect with ABATASA